reachfar – Ketegangan perdagangan AS-Tiongkok memasuki fase kritis setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor 60% untuk produk teknologi Tiongkok, termasuk chip semikonduktor dan kendaraan otonom. Menanggapi hal ini, pemerintah Tiongkok melalui Kementerian Perdagangannya bersumpah akan “berjuang sampai akhir” dengan langkah retaliasi yang “tegas dan proporsional”.
Latar Belakang Eskalasi
Kebijakan Trump ini merupakan perluasan dari perang dagang yang dimulai sejak 2018. Pada 22 Juni, AS resmi mengenakan tarif tambahan pada impor barang teknologi Tiongkok senilai USD 200 miliar per tahun, dengan alasan “praktik subsidi ilegal dan pencurian kekayaan intelektual”. Tiongkok membalas dengan mengancam akan menaikkan tarif hingga 50% untuk kedelai AS, gandum, dan pesawat Boeing, serta membatasi ekspor rare earth yang vital bagi industri AS.
Pernyataan Resmi Pihak Terkait
- Mao Ning, Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok: “Kami tidak memulai perang ini, tapi kami tidak akan mundur. AS harus siap menanggung semua konsekuensi.”
- Donald Trump dalam konferensi pers di Florida: “Tiongkok telah merampas 30 juta pekerjaan AS selama 30 tahun. Saatnya mereka membayar!”
- Katherine Tai, Perwakilan Dagang AS: “Kami terbuka untuk dialog, tetapi Tiongkok harus menghentikan distorsi pasar.”
Dampak Langsung ke Pasar Global
- Indeks Saham:
- Shanghai Composite anjlok 4,5% dalam sehari, terburuk sejak 2022.
- Nasdaq AS turun 2,8% imbas kekhawatiran supply chain teknologi.
- Sektor Rentan:
- Produsen chip AS seperti Intel dan Nvidia kehilangan 15% pasokan rare earth dari Tiongkok.
- Petani AS di Midwest protes setelah harga kedelai jatuh 20% dalam seminggu.
- Mata Uang:
- Yuan melemah ke level CNY 7,35/USD, terendah sejak 2008.
- Dolar AS menguat 1,2% terhadap mata uang utama.
Strategi Retaliasi Tiongkok
Berdasarkan dokumen bocor State Council, langkah balasan Tiongkok mencakup:
- Pembatasan ekspor gallium, germanium, dan produk metal langka mulai Juli 2024.
- Penggantian pesawat Boeing dengan Airbus dan COMAC C919 dalam armada domestik.
- Subsidi agresif untuk perusahaan chip domestik seperti SMIC dan Huawei.
Reaksi Internasional
- Uni Eropa: Menyerukan kedua pihak “menahan diri”, tapi menolak ikut sanksi.
- Rusia: Menawarkan diri sebagai alternatif pemasok gandum ke Tiongkok.
- ASEAN: Khawatir efek domino ke rantai pasok regional, terutama di sektor elektronik.
Analisis Pakar
Prof. Michael Pettis (Ekonom Universitas Peking):
“Perang ini tidak ada pemenang. AS rugi di sektor pertanian, Tiongkok kehilangan akses teknologi. Yang untung hanya negara netral seperti Vietnam dan Meksiko.”
Dr. Huiyao Wang (Pusat Inovasi Global Tiongkok):
“Tiongkok mungkin perlahan beralih ke pasar Asia dan Timur Tengah, tetapi butuh waktu 5-10 tahun untuk lepas dari ketergantungan ke AS.”
Proyeksi dan Potensi Gencatan Senjata
- IMF memperkirakan perang dagang ini bisa memotong pertumbuhan global 0,8% pada 2025.
- G20 di Brasil November 2024 dikabarkan akan jadi ajang negosiasi darurat.
- Kongres AS: Demokrat dan Republik berselisih soal skema kompensasi untuk petani.
Tabel Eskalasi Tarif 2024
Produk AS ke Tiongkok | Tarif Baru | Nilai Terkena |
---|---|---|
Chip Semikonduktor | 60% | USD 85 miliar/tahun |
Mobil Listrik | 50% | USD 32 miliar/tahun |
Produk Tiongkok ke AS | ||
Kedelai | 50% | USD 14 miliar/tahun |
Boeing 737 MAX | 30% | USD 8 miliar/tahun |
Apa Selanjutnya?
- Tiongkok dikabarkan akan uji coba digital yuan untuk transaksi komoditas global, mengurangi ketergantungan pada dolar.
- AS bersiap skenario “decoupling total” dengan relokasi pabrik chip ke Meksiko dan India.