reachfar – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menolak proposal rekonstruksi Gaza yang diajukan koalisi pemimpin Arab, termasuk Mesir, Yordania, dan Uni Emirat Arab (UEA). Rencana tersebut, yang mencakup mekanisme pendanaan internasional dan pembentukan otoritas transit sementara, dinilai Washington tidak sejalan dengan kepentingan keamanan Israel.
Isi Proposal Arab
- Pembentukan Dana Rekonstruksi Multinasional dengan kontribusi awal $30 miliar dari negara Teluk
- Pelibatan PBB dan Liga Arab dalam pengawasan distribusi bantuan
- Pembangunan infrastruktur kritis (listrik, air, rumah sakit) dalam 3 tahun
- Syarat demiliterisasi Hamas sebagai prasyarat pencairan tahap kedua
Alasan Penolakan AS
Dalam konferensi pers di Washington, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller menyatakan: “Kami menghargai inisiatif ini, tetapi proses rekonstruksi harus dipimpin oleh entitas Palestina yang terlegitimasi, bukan aktor eksternal”. AS juga menekankan perlunya koordinasi penuh dengan Israel, yang menolak pelibatan Qatar dan Turki dalam proposal tersebut.
Reaksi Pemimpin Arab
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyebut penolakan AS sebagai “kesempatan yang terbuang untuk mencegah radikalisasi lebih lanjut”. Sementara itu, Menlu UEA Sheikh Abdullah bin Zayed menyerukan intervensi komunitas global: “Rakyat Gaza tidak bisa menunggu solusi politik sempurna. Mereka butuh listrik dan air sekarang”.
Analisis Kebijakan
Para ahli menilai langkah AS mencerminkan prioritas politik dalam negeri jelang Pemilu 2024. “Administrasi Biden berusaha menyeimbangkan tekanan kelompok progresif yang mendukung Palestina dengan loyalitas tradisional kepada Israel,” ujar Dr. Sarah Leah Whitson, Direktur DAWN (Democracy for the Arab World Now).
Dampak di Lapangan
Data PBB menunjukkan 75% infrastruktur Gaza hancur total setelah 8 bulan konflik, dengan 1,9 juta warga mengungsi. Penolakan AS ini berpotensi memperlambat rehabilitasi wilayah yang sudah menghadapi krisis kemanusiaan akut.
Alternatif yang Diusung AS
Washington mengedepankan skema rekonstruksi melalui UNRWA (Badan Bantuan Pengungsi PBB) dengan pengawasan ketat dari AS dan Israel. Namun, rencana ini ditolak Hamas karena dianggap mengukuhkan blokade Tel Aviv terhadap Gaza.
Pertemuan darurat Liga Arab dijadwalkan pekan depan di Kairo untuk merespons perkembangan ini, sementara koalisi Arab-Turki disebut sedang mempertimbangkan opsi pendanaan unilateral tanpa persetujuan AS.