Rupiah Terseret ke Rp16.502/USD Imbas Ekspektasi The Fed Pertahankan Suku Bunga Hingga 2025

reachfar –  Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah tipis pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (22/3/2025), ke level Rp16.502/USD, turun 17 poin atau 0,10% dari posisi sebelumnya Rp16.485/USD. Pelemahan ini terjadi seiring sentimen pasar yang memprediksi Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5.75%-6.00% dalam rapat kebijakan minggu ini.

Pemicu Tekanan pada Rupiah

  1. Pernyataan Hawkish The Fed: Analis menyoroti komentar ketua The Fed, John Williams, yang menegaskan “belum ada ruang untuk pelonggaran moneter selama inflasi AS belum stabil di target 2%.”
  2. Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS: Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun melonjak ke 4.9%, memicu arus modal keluar dari pasar emerging markets.
  3. Penguatan Dolar AS: Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,3% ke level 105,2, didorong permintaan safe-haven assets jelang rilis data lapangan kerja AS.

Respons Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan pihaknya telah melakukan intervensi terbatas di pasar valas untuk mencegah volatilitas berlebihan. “Kami optimis tekanan akan mereda seiring stabilnya neraca perdagangan Indonesia,” ujarnya. BI mempertahankan suku bunga acuan di 6,25% untuk menjaga stabilitas Rupiah dan mengendalikan inflasi yang saat ini berada di 3,1%.

Dampak ke Pasar Domestik

  • IHSG ditutup stagnan di level 7.250, dengan saham sektor energi naik 1,2% tapi terkoreksi di sektor teknologi.
  • Harga emas antarbank turun 0,5% ke Rp1.150.000/gram seiring apresiasi Dolar AS.
  • Biaya impor bahan baku industri diperkirakan meningkat, berpotensi memengaruhi margin perusahaan manufaktur.

Proyeksi Analis

Dini Putri, Ekonom PT Mandiri Sekuritas, memperkirakan Rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.450–Rp16.600/USD hingga akhir Maret. “Pasar masih menunggu kepastian dari The Fed. Jika suku bunga AS bertahan hingga semester II-2025, Rupiah berisiko uji level Rp16.800/USD,” paparnya.

Perbandingan Regional

Pelemahan Rupiah masih lebih rendah dibandingkan mata uang Asia lainnya:

  • Ringgit Malaysia: Melemah 0,4% ke 4,80/USD.
  • Baht Thailand: Anjlok 0,7% ke 36,50/USD imbas ketegangan geopolitik.
  • Peso Filipina: Tetap stabil di 56,20/USD didukung arus remitansi.

Imbauan untuk Pelaku Bisnis

Kementerian Perdagangan mengingatkan eksportir untuk memanfaatkan hedging instrument guna memitigasi risiko kurs. Sementara itu, importir disarankan mempercepat pembayaran utang valas sebelum tekanan pada Rupiah meningkat.

Rupiah Tetap Menguat Meski Ancaman Tarif Trump Meningkat

reachfar – Rupiah menunjukkan tren penguatan di tengah ancaman kenaikan tarif oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat sebesar 0,18% di angka Rp16.250 per dolar AS. Tren apresiasi ini melanjutkan penguatan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.

Ancaman kenaikan tarif oleh Trump terhadap China dan negara-negara lainnya memang menciptakan ketidakpastian di pasar global. Namun, rupiah justru menguat di tengah ketidakpastian ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.15 WIB di pasar spot exchange, rupiah naik 46 poin (0,28%) ke level Rp 16.291,5 per dolar AS.

Trump telah memberlakukan tarif tambahan 10% pada barang-barang China dan berencana menerapkan kembali tarif baja dan aluminium dari periode sebelumnya. Meskipun ancaman ini meningkatkan sentimen negatif di pasar, rupiah tetap menunjukkan penguatan.

rupiah-tetap-menguat-meski-ancaman-tarif-trump-meningkat

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.320 – Rp 16.390 per dolar AS. Selain itu, data kepercayaan konsumen AS yang menunjukkan pelemahan juga memicu kekhawatiran atas ekonomi AS yang melambat, yang turut mendukung penguatan rupiah.

Meskipun ancaman kenaikan tarif oleh Donald Trump menciptakan ketidakpastian di pasar global, rupiah justru menunjukkan tren penguatan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih optimis terhadap kinerja ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.