reachfar.org

reachfar.org – Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, menyatakan ketidakpuasan yang mendalam terhadap China atas dukungannya kepada Rusia selama konflik di Ukraina. Dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh Reuters pada tanggal 26 April, Stoltenberg menekankan inkonsistensi Beijing yang mengaku ingin menjaga hubungan baik dengan negara-negara Barat sambil mendukung konflik bersenjata yang merupakan yang terbesar di Eropa pasca Perang Dunia Kedua. Pernyataan ini disampaikan setelah pertemuan di Berlin, Jerman, pada 25 April.

Perincian Dukungan Beijing kepada Moskwa

Dampak Bantuan Pertahanan dari China:
Stoltenberg menyoroti berbagai jenis bantuan yang telah diberikan oleh China kepada Rusia, yang berpengaruh langsung terhadap dinamika perang di Ukraina. Menurut laporannya, Rusia mendapat pasokan 90% mikroelektronika dari China pada tahun lalu, yang digunakan untuk peralatan militer seperti rudal, tank, dan pesawat. Dia juga menambahkan bahwa China telah memberikan dorongan pada kemampuan satelit dan pencitraan Rusia.

Penyesalan atas Ketergantungan Barat pada Rusia

Ketergantungan Minyak dan Gas Rusia Sebagai Kekeliruan:
Dalam pidatonya, Stoltenberg mengakui bahwa negara-negara Barat dan NATO telah membuat kesalahan strategis dengan mengandalkan minyak dan gas dari Rusia. Dia memperingatkan bahwa pola ketergantungan serupa terhadap China dalam hal keuangan, bahan baku, dan teknologi, dapat menimbulkan kerentanan yang sama.

Relasi China-Rusia dan Respons Barat

Penguatan Hubungan Beijing-Moskwa:
China telah meningkatkan hubungan dagang serta pertahanan dengan Rusia, termasuk penandatanganan perjanjian ‘tanpa batas’ di Februari 2022 yang mencakup kerjasama ekonomi dan pertahanan. Di sisi lain, respon dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat telah berupa penerapan sanksi terhadap Rusia menyusul invasi ke Ukraina. Meski demikian, sanksi tersebut tampaknya belum menghasilkan deterensi yang diharapkan dan malah mengurangi akses Barat terhadap sumber energi.

Pertemuan Tingkat Tinggi Antara China dan Rusia:
Data bea cukai menunjukkan bahwa hubungan perdagangan antara China dan Rusia mencapai nilai signifikan, dengan peningkatan 26,3 persen hingga mencapai US$240,1 miliar pada tahun 2023. Selanjutnya, pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan akan berlangsung pada Mei mendatang, menurut juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Jens Stoltenberg, sebagai perwakilan NATO, telah mengecam keras dukungan yang terus menerus diberikan oleh China kepada Rusia dalam konflik Ukraina dan menjadikan ini sebagai titik tekanan untuk memotong hubungan demi memperbaiki relasi dengan Barat. Dalam melihat ke depan, dia mengingatkan akan pentingnya menghindari ketergantungan yang membuat negara-negara Barat rentan, sambil merenungkan kerjasama yang semakin erat antara Beijing dan Moskwa.