reachfar – Rupiah menunjukkan tren penguatan di tengah ancaman kenaikan tarif oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat sebesar 0,18% di angka Rp16.250 per dolar AS. Tren apresiasi ini melanjutkan penguatan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Ancaman kenaikan tarif oleh Trump terhadap China dan negara-negara lainnya memang menciptakan ketidakpastian di pasar global. Namun, rupiah justru menguat di tengah ketidakpastian ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.15 WIB di pasar spot exchange, rupiah naik 46 poin (0,28%) ke level Rp 16.291,5 per dolar AS.
Trump telah memberlakukan tarif tambahan 10% pada barang-barang China dan berencana menerapkan kembali tarif baja dan aluminium dari periode sebelumnya. Meskipun ancaman ini meningkatkan sentimen negatif di pasar, rupiah tetap menunjukkan penguatan.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.320 – Rp 16.390 per dolar AS. Selain itu, data kepercayaan konsumen AS yang menunjukkan pelemahan juga memicu kekhawatiran atas ekonomi AS yang melambat, yang turut mendukung penguatan rupiah.
Meskipun ancaman kenaikan tarif oleh Donald Trump menciptakan ketidakpastian di pasar global, rupiah justru menunjukkan tren penguatan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih optimis terhadap kinerja ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.